Minggu, 07 Juli 2013

Mlaku-mlaku nang Yogyakarta, dina #3

Day 3..

Rencana awal, sebetulnya gw pengen bawa anak-anak ke pantai Wonosari.
Tapi katanya pantai itu jaraknya sekitar 2,5 jam dari Yogyakarta.
Jadi agak kurang pede kalau kesana hanya bertiga + supir sewaan aja.
Akhirnya, kami ke taman pintar.

Baru berangkat dari Hotel sekitar jam 11 siang. Langsung menuju Taman Pintar.

Disana, kami beli tiket untuk beberapa area, seperti memoribilia, oval, planetarium.
Kami juga membeli tiket untuk kegiatan membatik dan membuat tembikar (clay)

Tempatnya menurut gw sih cukup edukatif, tapi seperti kurang teratur aja..
Pembagian areanya kurang pas. Seperti di oval, setelah ikan air tawar, tau2 aja ada dinosaurus. setelah itu, lanjut kebeberapa alat yang ga tau itu apa. tidak ada penjelasan, tidak ada petugas juga untuk menjelaskan cara kerja alat2nya.
Ada alat listrik statis, tp ga ada yang tau gimana cara mengoperasikannya. Jadinya orang-orang cuma ngeliatin aja. Tapi ada juga sih, yang bisa langsung di coba.

Dibagian memoribilia, ada beberapa foto-foto pejuang, namun tidak dijelaskan siapa pejuang tersebut.
Hanya foto, dan nama. Beberapa foto peristiwa juga seperti tidak diurutkan kronologisnya.
Misalkan di kelompokkan, mungkin bisa lebih menarik yah..

Planetarium cukup menyenangkan..
Sayang hanya sebentar.

Pemberhentian terakhir kami, di tempat membatik dan tembikar.
Adik ga mau membatik, akhirnya cuma kakak yang membatik.
Adik asik main di area 'desa'. Naik sapi-sapian, main menyelusuri sawah-sawahan, tidur-tiduran di saung sambil memandangi ikan-ikan di kolam kecil.
Sementara kakak asik membatik, dilanjut bermain dengan tanah liat.
Melihat kakaknya main tanah liat, adik juga pengen ikutan.. Tapi begitu menyentuh tanah liat, langsung buru2 minta udahan.. haha.. dipikir tanah liat itu kaya play doh kali ya.. tp begitu tau kotor, langsung ga mau.. :D
Akhirnya ibunya deh yang ngelanjutin..
Sempat ada insiden si adik ilang, tp Alhamdulillah ketemu.. Duh naak, lemes kaki ibuuu... :(((

Pulang dari taman pintar, kita main ke alun-alun timur.
Naik sepeda lampu muterin alun-alun.
beli baling-baling lampu..
Sayang adik udah tidur, jadi cuma ibu sama kakak deh yang main di alun-alun..



Mlaku-Mlaku nang Yogyakarta, dina #1 lan #2

Alhamdulillah.. Tahun ini ada rejeki jalan-jalan sama anak-anak keluar kota.
Barengan sama event papanya, kami ikutan juga ke Yogyakarta.

Kami berangkat menggunakan maskapai Citilink. 
Kenapa Citilink? 
Sederhana saja.. Setelah browsing antara air asia dan citilink, harga tiket jakarta-jogja PP, lebih murah Citilink. :)
Cukup salut dg Citilink kali ini, karena penerbangannya ON TIME!! Beberapa kali pakai citilink, garuda atau air asia, seringan delay.. tp kali ini betul-betul on time.
Tapi cuaca memang agak kurang bersahabat. Karena saat di udara, hujan turun, awan tebal, dan beberapa kali melihat cahaya kilat.. Penerbangan agak terguncang, tp Alhamdulillah sampai di Yogya dengan selamat..

Di Yogya, kami menginap di Hotel Tentrem, hotel baru milik grup Sido Muncul.

Kesan pertama saya untuk hotelnya?
Hotelnya bagus.. Dan ternyata kabarnya, itu hotel bintang 5 ter gress di Yogyakarta. 
Cuma sayangnya, waktu kami datang, bell boy-nya agak kurang tanggap. hanya berdiri saat supir kami menurunkan barang-barang.
Kesukaanku dr design hotel ini adalah pintu2 besar dari kayu solid.
Untuk marmernya sih, saya pribadi bukan pecinta marmer :)

Pendapat saya untuk kamarnya:
Kamarnya geda, cuma sepertinya habis di cat. jadi banyak wallpaper yang kena ciprat cat. 
Sayang, jd mengurangi keindahan dinding hotelnya :(
Shower di kamar mandinya juga agak menyedihkan, krn kalau dihidupkan shower besarnya, air juga merembes dr plafon.. menjalar ke arah lampu.. scary..
Belum lagi airnya yang menyebar ke segala arah, dan akhirnya merembes keluar kamar mandi..
Oh iya, air showernya juga kalau baru di nyalakan, suka bau. :(
Lampu di toilet juga sudah lepas dr soketnya, jd menggantung. (di hari terakhir, akhirnya lampunya mati)
Untuk tempat tidurnya, menurut badanku yang sudah menjompo ini, terlalu keras.. Kurang nyaman jg dengan bantalnya yang begitu di tiduri langsung ambles (dan agak apek baunya). 
tapi itu preference saya pribadi sih ya.. sy lebih suka tempat tidur yg tidak terlalu keras, dan bantal yg fluffy..
Tapi diluar itu, itu hotel yang bagus dan nyaman.. 
Even untuk penakut macam saya, saya bisa langsung tidur nyenyak di hari pertama. Biasanya kan kalau nginep di hotel, ga pernah bisa langsung tidur nyenyak.. hehe..
Yang paling juara adalah: pelayanannya.. Pegawainya luar biasa ramahnyaaaa..
Suka deh menginap di hotel yang pegawainya ramah, selalu menyapa sugeng dalu, sugeng siang..
dan yang paling penting, tersenyum ramah. Love it!

Berhubung sampai di Yogya sudah malam, jadi hari pertama, kami hanya menghabiskan waktu di kamar. Sementara papa, langsuuung meeting sampe entah jam brp.

DAY 2 aliast DINA LORO!

Hari kedua.. kemana kita? 
Ga kemana-mana.. Di Hotel aja..
Setelah sarapan, anak-anak berenang. Sementara ibu duduk-duduk santai di pinggir kolam.. Cuacanya cerah, dan berangin sejuk..
Kolam renangnya bagus. Ada kolam untuk anak-anak. Untuk kedalaman kolam dewasanya itu 1,5m.

Selesai renang, lanjut ke kids club yang ada di samping kolam renang.
Bayar yaa.. Kami bertiga kena 35000/sepuasnya. Sudah dg pembelian kaus kaki.
Jam 5 sore, kami kembali ke kamar. Rencana malamnya mau ke malioboro, puter2 naik becak.
Apa daya, habis mandi, adik langsung tidur..

So.. di hotel aja malam ini.. 


-lobby-


gaya di depan meja receptionist 


ada kursi di dalam lift!! *norak mode* 


hallway


premium room (paling standarnya) 


kamar mandinya see through! hehe tenang.. ada gordennya kok :P 


view dari tempat duduk pinggir kolam renang.. cuaca cerah berangin.. mak nyus! 


tempat main anak2


main bareng


Minggu, 16 Januari 2011

Dapurku, impianku..


Impian kami sederhana..
kami hanya ingin punya rumah yang `hangat`..

Disini saya hanya ingin bercerita tentang sekelumit dari sejuta perjalanan kami dalam mengisi istana kami.. Mungkin yang membaca bisa memberi penilaian, apakah impian kami terlalu berlebihan?
Apakah kami salah?

Berawal dari keinginan kami membuat kitchen set. Sebelumnya kami sudah sempat bertemu dengan pembuat kitchen set dengan bahan tick wood, seperti kitchen set kebanyakan.
Sampai akhirnya, kami menemukan foto kitchen set yang menarik perhatian kami.
Kitchen set dengan bahan kayu jati Belanda.
Kebetulan, memang kami (saya) sangat ingin membuat kitchen set dan furniture dengan kayu Jati belanda. Biar seperti rumah-rumah jepang, atau ikea :)

Akhirnya, setelah kami melihat2 foto2 di web mereka, kamipun menghubungi si pembuat kitchen set tersebut. Kebetulan, salah satu teman kami juga sudah pernah membuat kitchen set di mereka, dan hasilnya cukup memuaskan..

Kamipun bertemu di lokasi untuk melakukan pengukuran, bicara desain dan bicara tarif..
Setelah menentukan desain, mereka pun memberikan penawaran harga.
Kamipun menawar harga tersebut. Kami pikir itu hal yang wajar, untuk menawar suatu harga.

Namanya saja penawaran harga.. boleh dong di tawar :)
Dan kami pun sepakat dengan satu harga..

Saat itu, saya sempat bertanya, `Apakah ini kayu peti kemas?`,
mereka jawab, `bukan..`
Mereka bercerita kalau mereka membeli kayu ini dalam bentuk papan panjang.
Kemudian kami utarakan, kalau kami ingin finishingnya natural, yaitu yang masih memperlihatkan warna asli kayunya. Kamipun menunjuk referensi kitchen set di IKEA.

"Bisa ga mas bikin kaya gini?"
"Oo.. bisa.. itu namanya finishing natural.. bisa.. bisa..`

Lalu merekapun menunjukkan hasil kerja mereka di rumah lain yang menggunakan finishing natural.
Setelah itu, kamipun bertanya, berapa lama waktu pembuatannya.
Merekapun menjelaskan, kalau tehnik pengeringan kayu yang mereka pakai ini tanpa oven. Jadi mereka harus menjemurnya, dan mengandalkan matahari.
"Jadi kami butuh waktu agak lama, mungkin sekitar 3-4 minggu.."

Dan kamipun menyanggupi..

Di tengah pengerjaan, karena tidak ada kabar dari mereka, kamipun bertanya,
"sudah sampai dimana progress pengerjaannya".
Mereka pun menyampaikan kalau sedang dikerjakan..

Tak lama kemudian, mereka memberitahukan bahwa kitchen set sudah siap dipasang.
"bu, besok kami ke tempat ibu ya.. kami mau pasang kitchen set.."
"oke, pak.. jam berapa bapak ke rumah?"
"jam 10an.."

Kuhubungi Bapak yang menjaga rumah, memberitahukan kalau akan ada yang datang, ingin memasang kitchen set, besok jam 10 pagi..

Keesokan harinya, si bapak laporan, kalau mereka tidak datang jam 10..
tidak datang jam 12..
tidak datang jam 3..
Mereka datang setelah Maghrib, memasang kitchen set malam2, dan pulang..

Besoknya, kami datang untuk melihat hasil kerja mereka...
Mengecewakan..
Tidak seperti apa yang saya lihat di web mereka, tidak seperti apa yang saya bayangkan..


Banyak lubang kecil bekas paku di kayunya.. Sehingga banyak dempulan disana-sini untuk menyamarkan lubang-lubang tersebut. Ada juga dempulan-dempulan besar yang kami tidak tau itu utk menutupi apa..

Pada lubang itu juga muncul warna kebiruan yang sepertinya berasal dari sisa karat paku.

















Bekas2 pensil juga masih ada, padahal itu sudah finishing akhir.

Beberapa paku juga dipasang dengan asal-asalan, sehingga menembus kayu. Tanganku sampai tergores..
Pemotongan alas kayu juga tidak rata, berkelok2..






Sekitar 2 minggu kemudian, di beberapa tempat mulai muncul keretakan..
Jadi rupanya, kayunya memuai..
Sepertinya proses pengeringan belum sempurna..

Dan masih banyak kekurangan lain seperti ukuran laci yang tidak sama panjang, pemasangan engsel yang mencong2, dll.









Akhirnya kamipun meminta waktu mereka untuk membicarakan mengenai hal ini. Sebagai konsumen, kami merasa tidak puas dengan hasil kerja mereka.

Saat itu kami sempat mengalami kesulitan untuk bertemu mereka. Dan mereka baru merespon saat kami menuliskan keluhan kami di facebook mereka. (yang kemudian mereka hapus)
Setelah menunggu sekitar 1 bulan sejak pemasangan, akhirnya kami bisa bertemu dengan pihak kitchen set untuk membicarakan ini.

Kami menyampaikan kekurangan-kekurangan tersebut, dan kami minta diperbaiki.
Kami buka web mereka, dan kami tunjukkan hasil kerja mereka yang mereka pajang di web mereka.
Permintaan kami tidak muluk kok, kami hanya ingin agar mereka memberikan kami hasil seperti yang mereka tampilkan di web mereka.
Kami tidak meminta penggantian. Kami hanya ingin dirapihkan. Diperbaiki.

Dan merekapun baru bilang:
1. Kayu jati belanda adalah kayu dengan kadar air yang tinggi. Jadi sekalipun di oven, tetap akan muncul kemungkinan retakan.

Buat kami, kalau memang retakan itu muncul setelah bertahun-tahun, kami maklum. Tapi ini muncul belum sampai 1 bulan sejak pemasangan. Sementara, teman kami yang juga memakai jasa mereka, tidak mengalami hal itu. Kitchen setnya bagus dan cenderung kuat. Kenapa di kami tidak? Apa yang membedakan? Apakah waktu penjemuran? Seingat kami, kami tidak pernah memburu-buru mereka untuk menyelesaikan. Kami hanya menanyakan progres. Wajar kan?

2. Kayu yang mereka pakai adalah kayu rekondisi, jadi merupakan kayu bekas. Oleh karena itu, sudah banyak bekas lubang paku disana sini.

Kami baru mendengar ini. Di awal, mereka tidak pernah sekalipun menyebutkan kalau akan menggunakan kayu rekondisi.
Kamipun menyampaikan, kalaupun rekondisi, mohon dipilihkan kayu2 yang lebih sedikit dempulan. Dan kalau memang harus di dempul, dempulah dengan rapih.

3. Karena pilihan finishing yang kami pilih adalah natural, maka itu tidak bisa menyamarkan dempulan dan lubang2 tersebut.

Cukup mengecewakan. karena saat kami meminta natural, mereka menyanggupi. Mereka tidak ada menyatakan bahwa mereka pakai kayu rekondisi yang tidak akan tertutupi dengan finishing natural. Kalau mereka sampaikan itu dari awal, mungkin saya tidak akan memilih jalan ini.

Dan kemudian alasan lain mereka, saat mengerjakan pesanan kami, mereka menggunakan Tukang yang berbeda dari tukang yang biasa mereka pakai.
Sungguh kami kurang beruntung, karena kami yang jadi percobaan.

Kami pikir, permintaan kami tidak aneh..
Kami hanya ingin hasil yang bagus, karena kami sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
Kami juga tidak meminta mereka untuk mengganti. Kami hanya ingin dirapihkan.
Perihal caranya, mereka selaku tukang yang lebih memahami.
Kami hanya ingin kualitas yang sama dengan apa yang mereka berikan ke teman saya..
Mungkin lebih kalau bisa..

Pada saat itu, kami hanya ingin mereka merapihkan itu semua..

Sampai kemudian pihak mereka berkata,
"Baiklah, bu. Saya akan coba perbaiki. Kalau tidak bisa, saya akan ganti. Yang jelas, saya akan rugi material, rugi upah tukang. Tapi kalau ternyata setelah selesai dipasang, akhirnya pecah lagi, bagaimana? Saya tidak mungkin mengganti lagi, bu.. rugi saya.."

Lho? Kenapa dia menanyakan itu ke kami? bukannya seharusnya kami yang bertanya seperti itu ke mereka? Bukannya seharusnya kami yang meminta garansi pekerjaan mereka?
Kenapa jadi kami juga yang disalahkan?

Lalu kami tegaskan, "jadi maksud anda, anda akan menggantinya, dengan catatan saya tidak boleh berkomentar apapun? sekalipun hasilnya saya tidak puas, sekalipun baru dipasang akan pecah, saya tetap tidak boleh protes apapun? saya harus membayar barang yang tiap melihatnya saya harus mengurut dada? Begitu?"

Kami jadi heran, apakah kami salah yah untuk meminta hasil yang bagus?
Apakah seharusnya kami diam dan terima saja dengan hasil yang mereka tampilkan?
Apakah salah kami juga kalau ternyata mereka menggunakan kayu rekondisi, dan mereka tidak bilang? Apakah salah kami juga kalau mereka kurang kering dalam menjemurnya? Apakah salah kami juga kalau mereka menggunakan tukang yang jelek?

Kenapa kami yang disalahkan? kenapa kami yang jadi dipusingkan dengan urusan bengkelnya?
Akhirnya kamipun mengajukan opsi.
Silahkan mereka perhitungkan, mana yang lebih menguntungkan untuk mereka.
1. Memperbaiki/menggantinya, atau
2. Kami batalkan pesanan kami. Mereka boleh menyimpan 30% dari uang yang sudah kami transfer, silahkan ambil dan bawa pulang kitchen set yang sudah mereka pasang. Toh mereka masih bisa menjual produk itu. Karena kami tidak mau merugikan orang juga..


Dan hari ini adalah kira-kira 3 minggu setelah pembicaraan itu.
Kamipun mengatur temu janji untuk membicarakan ini. Kami menanyakan, bagaimana keputusan mereka? Jalan manakah yang terbaik untuk mereka.

Merekapun memilih untuk membatalkan pesanan ini.
Tapi mereka mengatakan, kalau mereka minta waktu untuk menemukan pembeli. Dan sementara mereka belum menemukan pembeli, mereka ingin menitipkan kitchen set itu di rumah kami..
Ada yang aneh? ya.. dia akan MENITIPKAN kitchen set itu di rumah kami!!
Sampai kapan? BELUM DAPAT DITENTUKAN!! Sampai mereka dapat pembeli. Karena kalau mereka bawa ke workshop, takut rusak..

Luar biasa..

Pada akhirnya, mereka minta agar bisa dinaikkan menjadi 50% dr yang sudah kami transfer, barulah mereka akan angkut barang-barang tersebut.
Merekapun menyebutkan, kalau kami sudah men-fait accompli mereka.

Apakah benar kami sudah mem-fait accompli mereka?
Jadi, ingin mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak kami itu fait accompli?
Dari awal kami inginnya diperbaiki, kok..
hanya karena mereka membalikkan situasi menjadi seakan-akan itu tanggung jawab kami, maka kami mengajukan pilihan kedua. Pilihan itupun kami minta supaya mereka pertimbangkan. Mana yang lebih enak untuk mereka.

Apakah itu berarti fait accompli? Apa sih sebetulnya fait accompli itu?

Kami hanya ingin memasang kitchen set..
untuk istana kami..
agar bisa kami tempati..
Tempat aku memasak untuk suami dan anak-anakku..

Apakah tidak boleh kami meminta hasil yang bagus?
kenapa jadi seakan-akan kami yang jahat?











Senin, 09 Agustus 2010

Haura dan Kolam renang baru

Hari sabtu kemarin, aku dan suami pergi ke pasar prumpung..
Kesana sih niatnya mau cari kado buat anaknya sodara..
Ujung-ujungnya, malah pulang bawa 1 buah kolam renang plastik yang kata penjualnya, paling besar..

Panjangnya hampir 3mtr, lebarnya hampir 2mtr, tingginya 50cm..

Rencananya sih mau dipasang kalo sudah pindah rumah.
Tapi keburu di lihat sama Haura..
dia senang sekali lihat ada kolam renang baru.

"ibu, Aua mau berenang pake ini..", sambil tunjuk kolam plastiknya yg baru.
"mau ditaruh dimana?"
"disitu aja", sambil nunjuk halaman belakang rumah ibuku
"ga muat, sayang.."
"muat!"
"tapi ibu ga punya pompa. mau di pompanya pake apa?"
"ibu beli pompanya ya.."
"ok.. nanti ya.."
"sekarang aja.."
"naik apa?"
"naik mobil yang blue aja"
"mobil yang blue kan dipake papa.."
"kalo gitu, pinjam mobil om Pam.." *adikku*
"kan dipake Om Pam juga.."

lalu haura terdiam.. pasang gaya seperti orang yang sedang berfikir keras..

"ibu jalan kaki aja.. atau.. naik bajaj?" dengan muka menyeringai..

Haha... anak ini ngotot sekali...

Sorenya, waktu aku lagi beresin lemari, dia ajak aku main.
Pura-puranya, pintu lemari itu pintu rumahku..

Lalu dia ketok.. TOK TOK TOK..
"ibu, ada package for you.."
waktu aku liat, ternyata kolam plastik pagi tadi, di taruh didepan pintu lemari..

"pura2nya package buat ibu.. ada tulisannya, 'beli pompa' ", kata Haura dengan nada mendikte..

hahahaha.. ini anak bener2 kalo lagi mau sesuatu, luar biasa ngototnya!!!

Rabu, 21 Juli 2010

Menulis blog malam ini tentang Papanya anak-anak, membuatku jadi teringat kejadian unik dan absurd waktu pertama kali Papanya anak-anak menyatakan perasaannya, dan mau memintaku jadi pacarnya..

Kejadiannya sekitar 9 tahun yang lalu...
Hari itu, aku mengundang papanya anak-anak *yang waktu itu masih temanku* ke acara aqiqah keponakanku, di rumah..
Waktu itu, dia datang barengan sama 2 temanku yang lain..
sebetulnya, aku yang mengundang teman yang lain, sebagai kamuflase.. hahahahahahah....
*maafkan aku, 2 temanku yang lain*

Singkat kata, selesai acara, kami berempat mendapat tugas mulia, yaitu mengantarkan nenekku pulang ke rumahnya..

Sepanjang jalan pulang, kami berempat asyik bercanda, ngobrol, dll..
Semua kita becandain.. sampe nenek juga kita godain.. hehe... cucu-cucu kurang ajar semua..
Setelah nenek pulang, 2 temankupun minta sekalian diantarkan pulang..
Dan diperjalanan mengantarkan 2 orang temanku itupun, kami terus bercanda..
Main tebak-tebakan.. Dan, oh iya, main truth or dare..

Akhirnya, 2 temanku itu selesai kuantarkan, dan tinggallah kami berdua dalam mobil, menuju rumah..
Pulang..

Sepanjang jalan pulang, keceriaan tadi berubah jadi keheningan..
Kami hanya berdua di mobil..
Dari tape mengalunkan lagu romantis..

Hari sudah malam..

Sepanjang jalan pulang, kami hanya terdiam..
Yang namanya jantung ini sudah deg-degan minta ampuun.. Khawatir aja, jangan-jangan bunyinya kedengeran sampe tempat dia duduk..

Dan saat itu, yang bisa kulakukan hanya menundukkan kepalaku.. Untung saja saat itu hari sudah malam, jadi dia ga bisa lihat mukaku yang aku yakin sudah merah merona.. *malu*

Terasa tangannya menyentuh kepalaku.. dan membelai kepalaku..
Oh Tuhaaan, jantungku.. jantungku.... lari kemana tadi jantungkuuu!!!
main loncat gitu aja!!!! tolong.. duh gustiiii....... *panik.. panik*

Dan setelah lama terdiam, akhirnya keheninganpun terpecahkan, dengan dia mengatakan..........

"Umm... enaknya, aku bilang suka ke kamunya sekarang, apa nunggu tanggal 26 ya? Jadi biar tiap perayaan jadian, pas aku gajian.."

Dan hancurlah segala moment malam itu..

Forget about romantisme, dll..
Saat itu, aku hanya terbengong-bengong menatapnya.. ga percaya..

Dan apa yang dia lakukan??
Tersenyum lebar, dan blg, "hehe.. ga kok.. becanda.. tapi aku beneran suka sama kamu.. kamu mau ga jadi pacarku??"

Ya Allah.. ampunilah kelakuan absurd makhluk ciptaanMu yang satu ini, Ya Allah......
*tepok jidat kenceng2*


F, V, dan P

"Namanya siapa?", tanya papanya anak-anak di suatu sore.

Ceritanya, sore ini, Papanya anak-anak lagi buka-buka Facebook, dan lagi nyari profil seseorang di Facebook.

"irvan", jawabku.. Kulihat, papanya anak-anak mulai mengetik.

I-R-F-A-N

"bukan pake EF, tapi VE", kataku.. Papanya anak-anakpun merevisi..

I-R-P-A-N

"VE, sayangku.. bukan PE.. tapi VE..", kataku lagi..
"Lho, berarti tadi udah bener dong..", kata Papanya anak-anak, mulai ngotot..
"Tapi papa nulisnya pertama pake EF.. trus PE.. yang bener itu pake VE..."
"ooooo...."

well, third time is a charm.. :)

Senin, 19 Juli 2010

nyanyi sore-sore

Seperti biasa, anaknya kakakku main di kamarku sore ini.
Dia dan anakku lompat-lompat di kasur, sambil nyanyi-nyanyi..

Anak kakakku nyanyi lagu Hymne sekolahnya.
'Mari kita bangun Al Azhar Kelapa Gading....'

Anakku pun ikutan nyanyi, ceritanya, lagu yang sama..
'Mari kita pura-pura di Kelapa Gading....'

Sok tau.. asal.. kenceng pula..